Konsep “Kota dalam Kota” di Kota Semarang

Dikutip dari Kompas:

Selasa, 1 Juli 2008 | 15:45 WIB

Konsep kota taman (garden city) yang dicetuskan Ebenezer Howard (perencana kota di Amerika Serikat) menyatakan, area untuk hidup dan bekerja harus dibentuk di antara area komersial.

Konsep itu adalah konsep usang dan tidak layak dikembangkan lagi karena menimbulkan banyak masalah. Akan tetapi, konsep usang itu telanjur berkembang dan diterapkan di berbagai kota, termasuk di Semarang. Di Kota Semarang penataan kotanya sangat dipengaruhi konsep kolonial.

Bentuk “kota taman” di Semarang jelas terlihat. Permukiman penduduk akhirnya terkonsentrasi di daerah sub-urban, seperti Semarang barat (kawasan Manyaran), Semarang timur (kawasan Kedungmundu), serta Semarang selatan (Banyumanik).

Adapun pusat kota berlokasi di Semarang tengah yakni kawasan Simpang Lima dan Tugu Muda.

Alhasil, setiap hari terjadi kemacetan, potensi kecelakaan, polusi aneka pencemaran, dan potensi stres. Semua itu sebagai dampak kepadatan lalu lintas tiap kali terjadi pergerakan penduduk ke pusat kota untuk beraktivitas pada pagi dan sore hari (pukul 06.30- 09.00 dan 15.30-18.00).

Lihat saja area di sekitar Krapyak, Majapahit, dan Jatingaleh yang selalu penuh manusia menuju dan dari tempat kerja, sekolah, serta area perdagangan. Kepadatan dan kemacetan itulah dampak negatif dari konsep “kota taman”.

Untuk mengatasi kemacetan dan kepadatan yang sungguh tidak nyaman itu bukan hanya dengan mengatur arus lalu lintas. Bukan itu akar persoalannya. Lebih penting lagi menata ulang konsep perancangan kota.

Adanya rambu-rambu lalu lintas, alat penghitung mundur lampu lalu-lintas, dan sarana transportasi umum, hanya dapat membantu mengurangi dampak. Namun, sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Kota Semarang perlu dibagi dalam area lebih kecil menjadi “kota dalam kota” dengan mengembangkan fasilitas pusat kota di setiap area sub-urban.

Sudah selayaknya di Manyaran, Kedungmundu, dan Banyumanik dibangun pusat perbelanjaan, hiburan, komersial, serta kantor dan jasa layanan. Kawasan sub-urban tersebut menjadi “Simpang Lima Baru” sehingga orang dapat bekerja menjalankan usaha dan menikmati hiburan. Jika jarak dari rumah ke tempat kerja dapat ditempuh hanya dalam waktu lima menit, otomatis waktu tidak habis di jalan. Semua masih segar saat di kantor dan mengirit pengeluaran BBM.

Konsep “kota dalam kota” adalah pemecahan masalah kota Semarang. Kalangan pemerintah dapat meninjau konsep ini sebagai solusi, pengusaha dapat melihatnya sebagai peluang pengembangan usaha, dan penduduk juga akan dapat menikmati kemudahan layanan publik dalam berbagai sektor yang berdekatan dengan tempat tinggal.

Andie Wicaksono Arsitek dan pemerhati kota, Jalan Cemara 6/1 Banyumanik, Semarang

2 Responses to Konsep “Kota dalam Kota” di Kota Semarang

  1. tia mengatakan:

    I’m proud of Semarang and I’m sure that Semarang is a wonderful place…
    and if we can build Semarang especially on tourism Semarang can be one of Indonesia pride…
    Semarang, one of Indonesian jewel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: